Salah satu tantangan terbesar dalam membuat press release adalah menentukan seberapa banyak sebuah brand perlu “berbicara” tentang dirinya sendiri.
Di satu sisi, brand tentu ingin memperkenalkan produk, layanan, atau pencapaian terbaru mereka kepada publik. Namun di sisi lain, media tidak mencari materi promosi. Media mencari informasi yang relevan dan memiliki nilai berita bagi audiensnya.
Akibatnya, banyak press release berakhir pada dua ekstrem yang berbeda. Ada yang terlalu fokus menjual sehingga terasa seperti iklan. Ada juga yang terlalu fokus memberikan edukasi hingga identitas brand justru hampir tidak terlihat.
Padahal, press release yang efektif biasanya berada di tengah-tengah kedua pendekatan tersebut.
Table of Contents
ToggleKetika Press Release Terlalu Promosi
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menjadikan press release sebagai brosur pemasaran.
Judul dipenuhi klaim besar, isi artikel fokus membicarakan keunggulan produk, dan hampir setiap paragraf berusaha meyakinkan pembaca bahwa brand tersebut adalah yang terbaik.
Masalahnya, media sudah menerima puluhan bahkan ratusan press release setiap hari. Jika sebuah materi terasa terlalu promosi, kemungkinan besar media akan kesulitan menemukan nilai berita yang bisa diangkat menjadi artikel.
Bagi jurnalis, informasi seperti “produk terbaik”, “layanan nomor satu”, atau “solusi paling inovatif” sering kali tidak cukup kuat tanpa data, konteks, atau relevansi yang jelas.
Karena itu, semakin mirip sebuah press release dengan iklan, semakin kecil peluangnya untuk menarik perhatian media.
Ketika Press Release Terlalu Edukatif
Di sisi lain, ada juga brand yang terlalu fokus memberikan edukasi atau membahas tren industri tanpa menghubungkannya dengan brand itu sendiri.
Sekilas pendekatan ini terlihat lebih menarik karena memberikan informasi yang relevan bagi pembaca. Namun sering kali muncul masalah lain: brand kehilangan perannya dalam cerita.
Misalnya, sebuah perusahaan teknologi mengirimkan press release tentang perkembangan Artificial Intelligence tanpa menjelaskan bagaimana perusahaan tersebut terlibat dalam isu tersebut.
Atau sebuah brand kecantikan membahas tren skincare tanpa memberikan konteks mengenai kontribusi, produk, atau insight yang mereka miliki.
Hasilnya, informasi memang menarik, tetapi tidak membantu membangun positioning brand yang menjadi tujuan utama dari komunikasi tersebut.
Media Mencari Cerita, Bukan Promosi
Yang sering terlupakan adalah media tidak mencari materi pemasaran maupun artikel edukasi murni.
Media mencari cerita.
Cerita yang baik biasanya memiliki beberapa elemen penting:
- Ada informasi baru
- Ada relevansi dengan kondisi saat ini
- Ada data atau insight yang menarik
- Ada sudut pandang yang bermanfaat bagi pembaca
- Ada hubungan yang jelas dengan pihak yang menyampaikan informasi
Di sinilah pentingnya menemukan keseimbangan antara kepentingan brand dan kebutuhan media.
Brand tetap perlu muncul dalam cerita, tetapi kehadirannya harus terasa relevan dan natural.
Menemukan Sweet Spot
Press release yang efektif biasanya tidak dimulai dengan menjelaskan betapa hebatnya sebuah brand.
Sebaliknya, mereka dimulai dengan isu, tren, data, atau informasi yang menarik perhatian audiens terlebih dahulu.
Setelah konteks tersebut terbentuk, brand kemudian hadir sebagai bagian dari solusi, inovasi, atau perspektif yang relevan terhadap isu tersebut.
Pendekatan ini membuat informasi terasa lebih objektif dan lebih mudah diterima oleh media.
Misalnya, dibanding langsung mengumumkan produk baru, sebuah brand dapat memulai dengan data mengenai perubahan perilaku konsumen, lalu menjelaskan bagaimana produk tersebut hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Dengan cara ini, media mendapatkan nilai berita, sementara brand tetap mendapatkan eksposur.
Press Release yang Baik Memberikan Nilai untuk Semua Pihak
Pada akhirnya, press release yang baik bukanlah yang paling promosi, tetapi juga bukan yang sepenuhnya menghilangkan brand dari cerita.
Press release yang efektif mampu memberikan manfaat bagi semua pihak. Media mendapatkan informasi yang layak diberitakan. Audiens mendapatkan insight yang relevan. Dan brand berhasil membangun kredibilitas sekaligus memperkuat posisinya di pasar.
Di tengah persaingan informasi yang semakin padat, kemampuan menemukan keseimbangan antara brand message dan news value menjadi salah satu kunci agar sebuah press release tidak hanya dikirim, tetapi juga benar-benar diperhatikan.


