Kolaborasi brand dengan figur publik bukan hal baru. Tapi di tengah banyaknya endorsement dan brand ambassador hari ini, popularitas saja tidak selalu cukup untuk membuat sebuah kolaborasi relevan.
Ada satu pertanyaan yang justru lebih penting: apakah figur tersebut punya cerita, karakter, dan audiens yang sesuai dengan brand?
Kolaborasi No Na x NESCAFÉ menjadi salah satu contoh yang menarik untuk dilihat dari sisi Public Relations (PR).
NESCAFÉ Indonesia menggandeng No Na dalam rangkaian komunikasinya dan pada 4 September 2026 merilis NESCAFÉ × no na Music Video melalui kanal YouTube resminya. Alih-alih menempatkan produk sebagai satu-satunya pusat perhatian, kolaborasi ini membawa NESCAFÉ masuk ke dunia musik dan pop culture yang sudah melekat dengan No Na.
Dari perspektif PR, ini menunjukkan bahwa brand ambassador bisa bekerja lebih jauh dari sekadar menjadi wajah sebuah iklan.
Table of Contents
ToggleBrand Ambassador Bukan Cuma Soal Popularitas
Followers dan popularitas memang dapat memberikan reach. Namun, reach yang besar belum tentu menghasilkan komunikasi yang relevan.
No Na punya karakter yang cukup jelas. Girl group yang beranggotakan Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine ini debut pada Mei 2025 di bawah 88rising dan membawa identitas Indonesia dalam perjalanan mereka di industri musik global.
Musik, performance, fashion, dan visual menjadi bagian dari persona mereka.
Karakter tersebut membuat kolaborasi dengan brand seperti NESCAFÉ terasa lebih mudah diterjemahkan menjadi konten yang dekat dengan aktivitas dan kultur anak muda.
Di sinilah pemilihan brand ambassador menjadi bagian dari strategi PR.
Brand tidak hanya mencari siapa yang dikenal banyak orang, tetapi siapa yang bisa membantu menyampaikan karakter brand dengan cara yang terasa natural.
Karena ketika figur yang dipilih memiliki persona yang sesuai, audiens tidak harus bekerja keras untuk memahami alasan di balik kolaborasinya.
Masuk ke Percakapan, Bukan Sekadar Menampilkan Produk
Salah satu tantangan komunikasi brand saat ini adalah membuat orang tertarik pada konten yang sebenarnya bersifat komersial.
Audiens bisa melewati iklan dalam hitungan detik. Karena itu, produk tidak selalu harus menjadi satu-satunya pusat cerita.
Kolaborasi dengan No Na memberikan NESCAFÉ pintu masuk ke percakapan yang lebih luas: musik, performance, pop culture, hingga perkembangan talenta Indonesia.
Music video yang dirilis NESCAFÉ, misalnya, menggunakan musik dan visual No Na sebagai elemen utama. Produk tetap hadir, tetapi komunikasi dibungkus dalam format entertainment yang lebih dekat dengan dunia audiens mereka.
Dari sisi PR, strategi semacam ini penting karena sebuah brand pada akhirnya tidak hanya berkompetisi dengan brand lain.
Brand juga berkompetisi dengan lagu baru, video TikTok, serial, konser, meme, hingga berbagai konten lain yang mengisi perhatian audiens setiap hari.
Karena itu, terkadang cara agar brand tetap relevan bukan dengan berbicara lebih keras tentang produk, melainkan menemukan konteks yang membuat orang ingin memperhatikannya.
Ketika Fanbase Membantu Memperpanjang Percakapan
Ada keuntungan lain ketika brand bekerja dengan figur yang mempunyai komunitas: campaign memiliki peluang untuk hidup di luar kanal milik brand.
Fans tidak hanya menjadi penonton.
Mereka bisa membagikan campaign visual, potongan video, penampilan member, hingga membicarakan kolaborasi tersebut di media sosial.
Di titik ini, sebuah aktivitas yang awalnya berasal dari brand berpotensi berkembang menjadi percakapan organik.
Bagi PR, efek tersebut cukup penting.
Exposure dari iklan berhenti ketika placement selesai. Tetapi percakapan dari komunitas bisa memperpanjang umur campaign jauh setelah konten pertama diluncurkan.
Ini pula yang membuat memilih talent dengan fanbase yang aktif berbeda dengan sekadar memilih figur berdasarkan jumlah followers.
Brand tidak hanya mendapatkan audience, tetapi juga kemungkinan mendapatkan amplifier.
Dan bagi sebuah campaign, orang yang secara sukarela membicarakan brand sering kali mempunyai nilai yang berbeda dibanding orang yang sekadar melihat iklannya.
Kolaborasi yang Tepat Bisa Membuka Audiens Baru
Kolaborasi juga memungkinkan terjadinya pertukaran audiens.
Penggemar No Na mungkin mengenal NESCAFÉ dari konteks yang berbeda, sementara konsumen NESCAFÉ yang sebelumnya tidak mengikuti No Na menjadi terekspos dengan grup tersebut.
Hubungan semacam ini yang membuat brand collaboration menarik.
Masing-masing pihak membawa aset komunikasi yang berbeda.
NESCAFÉ membawa brand recognition dan jaringan komunikasi yang besar. No Na membawa karakter, entertainment value, dan komunitas.
Ketika keduanya memiliki titik temu yang jelas, kolaborasi tidak terasa seperti dua nama besar yang sekadar ditempelkan dalam satu campaign.
Ada alasan mengapa keduanya berada dalam percakapan yang sama.
Apalagi momentum No Na juga tengah berkembang. Kementerian Ekonomi Kreatif pada September 2026 menyoroti perjalanan grup tersebut sebagai salah satu contoh musisi Indonesia yang membawa identitas lokal ke audiens global.
Artinya, NESCAFÉ tidak hanya bekerja dengan figur yang populer, tetapi masuk ke dalam momentum budaya yang sedang berkembang di sekitar mereka.
Brand Ambassador Adalah Bagian dari Reputasi Brand
Meski begitu, memilih ambassador tetap tidak bisa hanya berdasarkan momentum.
Ketika sebuah brand bekerja dengan figur publik, brand juga menghubungkan reputasinya dengan figur tersebut.
Persona, gaya komunikasi, audience sentiment, hingga nilai yang diasosiasikan dengan seorang talent dapat ikut memengaruhi bagaimana publik melihat campaign.
Karena itu, sebelum menentukan ambassador, brand perlu melihat lebih jauh dari sekadar angka followers atau engagement.
Apakah audiensnya sesuai?
Apakah persona talent sejalan dengan karakter brand?
Apakah kolaborasinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih besar daripada sekadar product placement?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi bagian penting dalam perencanaan PR.
Sebab ambassador yang tepat tidak hanya menghasilkan exposure. Ia dapat membantu brand menentukan dengan siapa brand ingin berbicara dan dalam percakapan seperti apa brand ingin hadir.
Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari No Na x NESCAFÉ?
Ada tiga hal yang menarik dari kolaborasi ini.
Pertama, relevansi bisa lebih penting daripada sekadar popularitas. Figur yang memiliki karakter dan audiens yang sesuai akan membuat pesan brand terasa lebih natural.
Kedua, brand tidak harus terus-menerus membicarakan produknya. Musik, entertainment, sport, fashion, atau cultural moment bisa menjadi pintu masuk komunikasi selama masih punya hubungan yang jelas dengan brand.
Ketiga, campaign sebaiknya memberi ruang untuk dibicarakan kembali. Ketika komunitas ikut membagikan dan merespons sebuah kolaborasi, campaign tidak lagi hanya menjadi komunikasi satu arah dari brand.
Pada akhirnya, brand ambassador yang efektif bukan hanya orang yang bisa membuat sebuah produk terlihat.
Yang lebih penting adalah apakah kehadirannya bisa membuat brand terasa lebih relevan untuk dibicarakan.


