Satu pesan bisa punya arti berbeda ketika dibaca oleh audience, negara, atau situasi yang berbeda.
Dalam brand communication, ada satu risiko yang sering luput dari perhatian: pesan yang sebenarnya tidak salah, tetapi bisa menjadi masalah ketika ditempatkan dalam konteks tertentu.
Inilah yang disebut context risk.
Sebuah brand bisa saja sudah memastikan bahwa copy yang dibuat tidak mengandung informasi yang keliru, tidak melanggar aturan, dan sesuai dengan brand voice. Tapi komunikasi brand tidak pernah terjadi di ruang kosong. Ada timing, situasi sosial, budaya, hubungan antar kelompok, sampai emosi publik yang ikut mempengaruhi bagaimana sebuah pesan diterima.
Table of Contents
ToggleSatu Pesan, Bisa Punya Arti Berbeda
Bayangkan sebuah brand ingin ikut meramaikan momen kemenangan olahraga. Secara sederhana, mengucapkan selamat kepada tim yang menang tentu bukan sesuatu yang bermasalah.
Tapi bagaimana jika pertandingan tersebut melibatkan dua negara yang punya rivalitas kuat?
Pesan yang dimaksudkan sebagai bentuk perayaan bisa saja dibaca sebagai bentuk provokasi, sindiran, atau keberpihakan oleh audience tertentu.
Contoh seperti ini terlihat dalam percakapan publik setelah pertandingan FIFA ASEAN Cup. Ketika Indonesia meraih kemenangan, banyak brand ikut masuk ke dalam percakapan real-time marketing dengan memberikan ucapan atau membuat konten yang berkaitan dengan pertandingan.
Namun, konteks regional membuat respons terhadap konten tersebut tidak selalu sama. Salah satu contoh yang mendapat sorotan adalah KAHF, ketika kontennya mengenai kemenangan Indonesia mendapat reaksi negatif dari sebagian netizen Malaysia maupun Indonesia.
Masalahnya bukan semata-mata pada apakah pesan tersebut “salah” atau “benar”.
Masalahnya ada pada konteks di mana pesan itu dibaca.
Brand Tidak Bicara di Ruang Kosong
Ini yang membuat context risk penting dalam strategi komunikasi.
Satu konten yang terlihat aman ketika dibuat di ruang meeting bisa memiliki interpretasi berbeda ketika sudah masuk ke media sosial. Audience tidak hanya membaca kata-kata yang ditulis brand. Mereka juga membawa pengalaman, emosi, identitas, dan situasi yang sedang terjadi ketika melihat konten tersebut.
Karena itu, brand voice saja tidak cukup.
Brand mungkin punya karakter yang playful, witty, atau berani. Tetapi bukan berarti semua situasi harus dijawab dengan tone yang sama.
Ada perbedaan antara “brand harus punya karakter” dan “brand harus selalu ikut berkomentar.”
Justru, brand communication yang matang tahu kapan harus ikut masuk ke sebuah conversation dan kapan lebih baik tidak ikut.
Relevan Bukan Berarti Harus Ikut Semua Percakapan
Tren dan momen real-time memang menawarkan peluang besar bagi brand untuk mendapatkan engagement dan relevansi.
Tapi semakin cepat sebuah brand ingin masuk ke percakapan, semakin kecil pula waktu yang tersedia untuk mengevaluasi konteksnya.
Sebelum ikut dalam sebuah tren, brand seharusnya tidak hanya bertanya:
“Apakah ini sedang viral?”
Tetapi juga:
“Apa yang sedang terjadi di balik viralnya topik ini?”
Siapa yang terlibat? Siapa yang mungkin merasa tersinggung? Apakah ada rivalitas, isu sosial, atau sentimen tertentu yang sedang berkembang? Dan yang paling penting, apakah kehadiran brand benar-benar menambah value atau justru membuat percakapan menjadi lebih sensitif?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa menjadi bagian dari context check sebelum sebuah konten dipublikasikan.
Context Check Sebelum Brand Bicara
Dalam praktiknya, context risk tidak selalu bisa diprediksi 100 persen. Tetapi risikonya bisa diminimalkan.
Sebelum publish, tim komunikasi bisa melihat setidaknya empat hal: apa yang sedang terjadi, siapa yang akan membaca, bagaimana pesan bisa diinterpretasikan di luar audience utama, dan apakah tone yang digunakan memang sesuai dengan situasinya.
Karena satu copy bisa terlihat lucu bagi satu kelompok, tetapi terasa menyindir bagi kelompok lain.
Dan satu momentum bisa terlihat seperti kesempatan engagement bagi brand, tetapi menjadi sensitif ketika dilihat dari perspektif yang berbeda.
Pada akhirnya, komunikasi yang efektif bukan hanya tentang apa yang ingin brand katakan, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut mungkin diterima.
Itulah kenapa dalam brand communication, memahami konteks sama pentingnya dengan memahami brand voice.
Karena kadang, risiko terbesar bukan datang dari pesan yang salah.
Tapi dari pesan yang benar, di waktu dan konteks yang salah.


