Brand sekarang dituntut lebih human. Tapi kalau terlalu santai, apakah masih terlihat profesional?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika melihat bagaimana brand berkomunikasi di media sosial. Akun resmi perusahaan bisa ikut bercanda di kolom komentar, menggunakan bahasa sehari-hari, membuat meme, bahkan berinteraksi dengan audiens seperti seorang teman.
Gaya seperti ini terbukti bisa membuat brand terasa lebih dekat. Tapi di sisi lain, ada situasi ketika publik tetap mengharapkan brand untuk berbicara dengan serius, jelas, dan profesional.
Jadi, apakah brand masih perlu terlihat profesional?
Jawabannya: iya. Tapi profesional tidak selalu berarti formal.
Table of Contents
ToggleProfesional Bukan Berarti Kaku
Selama ini, komunikasi profesional sering identik dengan bahasa yang formal, kalimat yang panjang, dan tone yang sangat hati-hati.
Padahal, profesional sebenarnya lebih berkaitan dengan bagaimana brand menyampaikan sesuatu secara jelas, bertanggung jawab, dan sesuai konteks.
Brand bisa menggunakan bahasa yang santai tanpa kehilangan kredibilitas.
Sebaliknya, brand juga bisa menggunakan bahasa yang sangat formal tetapi tetap terasa tidak profesional jika informasinya tidak jelas, terlalu banyak jargon, atau tidak menjawab kebutuhan audiens.
Karena itu, yang perlu dijaga bukan sekadar pilihan kata, tetapi konteks komunikasinya.
Ketika membalas komentar di Instagram atau Threads, gaya yang conversational mungkin terasa lebih tepat. Ketika memberikan informasi produk, bahasa yang sederhana dan friendly bisa membantu audiens memahami pesan.
Namun ketika brand mengumumkan perubahan kebijakan, menyampaikan hasil bisnis, memberikan pernyataan resmi, atau berbicara kepada media, standar komunikasinya tentu berbeda.
Di sinilah PR punya peran penting.
Tidak Semua Pesan Harus Menggunakan Suara yang Sama
Salah satu kesalahan dalam membangun brand voice adalah menganggap brand harus berbicara dengan tone yang sama di semua kanal.
Padahal, setiap kanal memiliki fungsi yang berbeda.
Media sosial bisa menjadi ruang untuk membangun kedekatan. Website dapat menjadi sumber informasi resmi. CEO atau founder bisa membawa perspektif yang lebih personal. Sementara press release berfungsi menyampaikan informasi perusahaan kepada media secara terstruktur.
Semuanya tetap merupakan bagian dari brand.
Yang berbeda adalah cara menyampaikannya.
Misalnya, brand bisa menulis caption media sosial dengan bahasa yang ringan. Tetapi ketika membuat press release tentang peluncuran produk, informasi tersebut perlu disusun lebih jelas: apa yang diluncurkan, mengapa penting, siapa yang terlibat, data apa yang mendukung, dan informasi apa yang perlu diketahui media.
Press release tidak harus terdengar kaku.
Yang penting, ia tetap informatif, faktual, dan memiliki news value.
Press Release Tetap Membutuhkan Kredibilitas
Di tengah komunikasi brand yang semakin conversational, press release justru punya fungsi yang semakin penting sebagai salah satu bentuk komunikasi resmi perusahaan.
Ketika informasi beredar di banyak kanal, publik dan media membutuhkan sumber yang bisa dijadikan rujukan.
Di sinilah press release membantu memberikan versi informasi yang lebih terstruktur.
Bukan berarti press release harus menjadi dokumen yang penuh jargon atau kalimat korporat.
Justru press release yang baik biasanya lebih efektif ketika langsung menyampaikan informasi penting dan tidak terlalu sibuk menjual brand.
Ada perbedaan antara:
“Kami sangat bangga menghadirkan inovasi luar biasa yang akan merevolusi industri…”
dengan:
“Perusahaan X meluncurkan produk X untuk menjawab kebutuhan Y, berdasarkan hasil riset Z.”
Yang kedua mungkin terdengar lebih sederhana, tetapi jauh lebih mudah digunakan oleh jurnalis dan dipahami publik.
Profesional bukan berarti terdengar besar.
Profesional berarti bisa dipercaya.
PR Perlu Tahu Kapan Brand Harus Santai
Perubahan gaya komunikasi bukan berarti semua brand harus berubah menjadi lucu atau menggunakan bahasa slang.
Brand voice tetap perlu disesuaikan dengan karakter dan audiens.
Brand lifestyle mungkin memiliki ruang lebih besar untuk bermain dengan humor. Brand teknologi bisa menggunakan bahasa yang conversational. Sementara sektor seperti finansial, kesehatan, atau layanan publik mungkin membutuhkan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi.
Bahkan dalam satu brand pun, tone dapat berubah berdasarkan situasi.
Saat merayakan campaign, brand bisa lebih playful.
Saat memberikan edukasi, brand bisa lebih friendly.
Saat menyampaikan informasi resmi kepada media, brand perlu lebih precise.
Saat terjadi persoalan yang berdampak kepada publik, brand perlu lebih empatik dan bertanggung jawab.
Jadi, brand voice bukan satu suara yang dipakai untuk semua keadaan.
Ia lebih seperti kemampuan brand untuk tetap menjadi dirinya sendiri dalam berbagai konteks.
Tantangannya Ada di Konsistensi
Semakin banyak kanal yang digunakan brand, semakin besar pula kemungkinan muncul perbedaan tone.
Hari ini brand terdengar sangat santai di media sosial. Besok press release-nya menggunakan bahasa yang sangat korporat. CEO berbicara dengan gaya personal, sementara spokesperson terdengar seperti membaca skrip.
Perbedaan tersebut tidak selalu salah.
Yang menjadi masalah adalah ketika publik tidak lagi bisa melihat hubungan antara semua komunikasi tersebut.
Karena itu, PR perlu memastikan bahwa meskipun tone berbeda, nilai, fakta, dan pesan utama tetap konsisten.
Brand boleh terdengar berbeda di Instagram dan di press release.
Tetapi publik tetap harus bisa mengenali bahwa keduanya berasal dari organisasi yang sama.
Profesional Itu Soal Konteks
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah brand harus profesional atau santai.
Pertanyaannya adalah:
“Gaya komunikasi seperti apa yang paling tepat untuk situasi ini?”
Brand yang terlalu formal bisa terasa jauh dari audiens. Brand yang terlalu santai bisa kehilangan kredibilitas ketika menghadapi situasi yang membutuhkan keseriusan.
PR berada di tengah-tengahnya.
Tugasnya bukan membuat brand selalu terdengar formal, tetapi memastikan setiap komunikasi punya tone, pesan, dan konteks yang tepat.
Karena di era ketika brand semakin ingin terlihat seperti manusia, menjadi human bukan berarti kehilangan profesionalisme.
Justru brand yang kuat adalah brand yang tahu kapan harus bercanda, kapan harus berbicara sederhana, dan kapan harus berdiri dengan suara yang jelas dan bertanggung jawab.
Bukan tentang terlihat profesional setiap saat. Tapi tentang tahu kapan profesionalisme itu dibutuhkan.


