Cerita yang kuat dalam sebuah campaign nggak selalu harus dibuat dari awal. Kadang, cerita itu sudah ada di sekitar brand. Tinggal bagaimana brand menemukannya.
Hal ini yang menarik dari campaign Fore x Tahilalats, The Unexpected Fweends. Di balik kolaborasi ini, ada cerita tentang Bubu, seekor kucing yang sering nongkrong di depan gerai Fore dan akhirnya menjadi akrab dengan para barista.
Bubu bahkan bukan karakter yang tiba-tiba dibuat untuk kebutuhan campaign. Namanya terinspirasi dari menu Fore Bumi Latte dan diberikan oleh barista Fore sendiri.
Dari interaksi kecil tersebut, lahirlah cerita yang kemudian dikembangkan menjadi bagian dari campaign.
Dan menurut gue, di sinilah emotional storytelling dalam campaign ini menjadi menarik.
Table of Contents
ToggleKetika Cerita Berasal dari Hal Kecil
Dalam storytelling, ada pendekatan top-down dan bottom-up.
Top-down biasanya dimulai dari cerita besar. Brand sudah menentukan pesan atau tema, kemudian mencari berbagai elemen yang bisa mendukung cerita tersebut.
Sementara bottom-up justru dimulai dari hal-hal kecil yang terjadi di sekitar brand seperti Bubu.
Awalnya hanya seekor kucing yang sering datang dan nongkrong di depan gerai Fore. Lama-kelamaan, barista mulai mengenalnya, memperhatikannya, bahkan sampai memberinya nama.
Cerita kecil seperti ini mungkin terlihat sepele.
Tapi justru karena terasa nyata dan dekat dengan keseharian, ceritanya punya emotional hook yang lebih natural.
Emotional Storytelling Nggak Harus Dramatis
Ketika mendengar istilah emotional storytelling, kita sering membayangkan campaign yang penuh haru atau cerita yang sengaja dibuat untuk membuat audience menangis.
Padahal, emosi bisa datang dari hal yang jauh lebih sederhana.
Bisa dari rasa gemas. Familiarity. Nostalgia. Atau sekadar melihat sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita Bubu bekerja di area tersebut.
Orang mungkin pernah melihat kucing yang rutin datang ke tempat tertentu. Atau pernah punya hewan yang tiba-tiba menjadi bagian dari rutinitas. Hal sederhana seperti itu membuat audience lebih mudah masuk ke dalam cerita.
Jadi, campaign tidak harus mengatakan “brand kami peduli.”
Cerita yang ditampilkan justru membuat audience merasakan sendiri sisi tersebut.
Brand Tidak Selalu Harus Jadi Tokoh Utama
Ini salah satu hal yang menarik dari brand storytelling.
Brand sering merasa bahwa campaign harus selalu membicarakan produk: apa produknya, apa manfaatnya, dan kenapa audience harus membelinya.
Padahal, brand juga bisa membangun cerita yang tidak menjadikan produk sebagai pusat perhatian.
Dalam Fore x Tahilalats, Bubu justru menjadi salah satu pintu masuk ke cerita.
Fore hadir sebagai tempat di mana cerita tersebut terjadi. Tahilalats kemudian membawa karakter dan gaya visualnya untuk mengembangkan cerita tersebut menjadi sebuah campaign.
Hasilnya, kolaborasi ini terasa lebih dari sekadar “Fore x Tahilalats.”
Ada cerita di baliknya.
Dari Cerita Kecil Menjadi Campaign
Yang menarik, cerita tentang Bubu kemudian bisa berkembang menjadi bagian dari campaign yang lebih besar, yaitu The Unexpected Fweends.
Ini menunjukkan bagaimana sebuah brand bisa menemukan ide campaign dari sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi di sekitarnya.
Customer, barista, kebiasaan di gerai, sampai kejadian kecil yang awalnya tidak dianggap penting bisa menjadi sumber cerita.
Kuncinya adalah peka melihatnya.
Karena tidak semua cerita harus diciptakan melalui brainstorming di ruang meeting. Beberapa cerita terbaik mungkin sudah terjadi setiap hari, hanya saja belum pernah dilihat sebagai bagian dari komunikasi brand.
Storytelling yang Membuat Brand Terasa Lebih Human
Pada akhirnya, kekuatan campaign seperti ini bukan hanya pada karakter Bubu atau kolaborasinya dengan Tahilalats.
Yang menarik adalah bagaimana emotional storytelling membuat brand terasa lebih dekat dengan kehidupan audience.
Fore tidak hanya muncul sebagai brand kopi yang menjual produk. Ada cerita tentang barista, customer, tempat, dan bahkan seekor kucing yang menjadi bagian dari keseharian di sekitar gerai.
Dan mungkin ini yang bisa dipelajari brand lain.
Jangan selalu mencari cerita yang besar. Cari cerita yang terasa nyata.
Karena dalam sebuah campaign, audience tidak selalu membutuhkan cerita yang spektakuler untuk merasa terhubung. Kadang, seekor kucing yang setiap hari nongkrong di depan gerai sudah cukup untuk memulai sebuah cerita.
Karena cerita terbaik kadang bukan yang dibuat oleh brand, tapi yang ditemukan brand.


