Kehadiran Pancatera di perayaan HUT ke-81 RI di Istana sebenarnya bisa saja berhenti sebagai satu unggahan perayaan kemerdekaan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Foto sejumlah host In Her View bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo berkembang menjadi percakapan panjang di media sosial.
Respons publik pun tidak berhenti pada pertanyaan soal alasan mereka datang ke Istana. Percakapan kemudian melebar ke hal yang jauh lebih mendasar: posisi Pancatera, nilai yang selama ini mereka bawa, sampai sejauh mana tindakan para host dianggap selaras dengan citra yang sudah terbentuk di mata audiens.
Di titik ini, kasus Pancatera menjadi menarik untuk dilihat dari kacamata PR.
Sebab persoalannya bukan semata-mata soal datang atau tidak datang ke sebuah acara kenegaraan. Kehadiran di Istana juga tidak otomatis berarti dukungan politik. Yang membuat isu ini membesar adalah makna yang diberikan audiens terhadap kehadiran tersebut.
Dan dalam reputasi, makna sering kali lebih menentukan daripada niat.
Table of Contents
ToggleKetika Audiens Punya Ekspektasi terhadap Sebuah Brand
Pancatera, lewat In Her View, sejak awal tidak hadir sebagai podcast yang hanya mengandalkan obrolan ringan antarteman. Platform ini membawa percakapan tentang perempuan, pengalaman hidup, sudut pandang yang berbeda, dan berbagai isu yang dekat dengan kehidupan audiensnya.
Lama-kelamaan, publik bukan hanya mengenal isi kontennya. Mereka juga membangun gambaran tentang siapa Pancatera dan nilai apa yang diwakilinya.
Di sinilah ekspektasi mulai terbentuk.
Ketika sebuah brand dikenal dekat dengan isu empowerment, critical thinking, independensi, atau representasi, audiens secara otomatis akan memakai nilai-nilai tersebut untuk membaca tindakan brand di luar kontennya.
Hal yang sama juga berlaku pada perusahaan.
Brand yang gencar bicara sustainability akan ditanya soal praktik bisnisnya. Brand yang membawa pesan inklusivitas akan diperhatikan siapa saja yang benar-benar mendapat ruang. Brand yang membangun citra independen akan lebih sensitif ketika terlihat dekat dengan institusi atau figur tertentu.
Jadi ketika foto Pancatera di Istana beredar, sebagian publik tidak melihatnya sebagai foto perayaan kemerdekaan semata. Mereka membandingkannya dengan citra Pancatera yang selama ini ada di kepala mereka.
Dari situ muncul berbagai kritik tentang privilege, independensi, representasi, hingga bagaimana isu pemberdayaan perempuan dibicarakan.
Bukan karena satu foto tiba-tiba menjelaskan semuanya. Tetapi karena satu foto itu menjadi pemicu untuk membaca ulang seluruh identitas brand.
Di Media Sosial, Publik Bisa Membuka Kembali Semua Jejak
Salah satu hal yang membuat krisis reputasi hari ini berbeda adalah mudahnya publik menghubungkan satu kejadian dengan jejak lama.
Ketika sebuah isu muncul, audiens bisa kembali ke konten sebelumnya, pernyataan lama, komentar para host, bahkan peristiwa yang mungkin sudah lama tidak dibicarakan.
Percakapan Pancatera memperlihatkan pola tersebut.
Yang awalnya hanya soal foto di Istana kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai positioning platform, personal brand para host, sampai nilai-nilai yang dianggap mereka representasikan.
Dalam kondisi seperti ini, publik sebenarnya sedang melakukan semacam audit reputasi.
Mereka tidak hanya bertanya, “Apa yang baru saja terjadi?”
Mereka mulai bertanya, “Apakah ini konsisten dengan yang selama ini kalian tunjukkan?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit dijawab dengan satu klarifikasi.
Karena reputasi memang tidak dibentuk oleh satu unggahan. Ia terbentuk dari akumulasi tindakan, pesan, pilihan, dan asosiasi dalam waktu yang panjang.
Brand Tidak Bisa Sepenuhnya Menentukan Cara Publik Membaca Sebuah Tindakan
Ini salah satu bagian yang sering luput dalam komunikasi.
Sebuah brand bisa memiliki alasan yang sangat jelas ketika mengambil keputusan. Tetapi publik belum tentu membaca keputusan itu dengan cara yang sama.
Bagi Pancatera, datang ke Istana mungkin ditempatkan dalam konteks perayaan Hari Kemerdekaan. Bagi sebagian audiens, foto bersama Presiden justru dianggap sebagai bentuk kedekatan dengan kekuasaan.
Dua interpretasi itu bisa muncul bersamaan.
PR tidak selalu bertugas menentukan mana interpretasi yang “benar”. Yang lebih penting adalah memahami bahwa interpretasi semacam itu mungkin muncul sejak awal.
Karena itu, ketika brand, founder, spokesperson, atau figur yang sangat melekat dengan sebuah brand masuk ke ruang yang sensitif secara sosial maupun politik, pertimbangannya tidak cukup berhenti pada, “Apakah ini boleh dilakukan?”
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Bagaimana audiens kita kemungkinan akan membaca tindakan ini?
Itulah fungsi reputational risk assessment.
Bukan untuk membuat brand takut mengambil sikap, melainkan supaya brand memahami konsekuensi komunikasi dari setiap pilihan yang dibuat.
Permintaan Maaf Tidak Otomatis Menutup Percakapan
Setelah kritik membesar, Pancatera menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa platform mereka independen serta tidak berafiliasi dengan pemerintah maupun lembaga politik.
Secara komunikasi, respons tersebut menunjukkan bahwa mereka mendengar reaksi publik dan tidak memilih bersikap konfrontatif.
Namun kasus seperti ini sulit selesai hanya dengan pernyataan.
Sebab yang dipertanyakan audiens bukan sekadar fakta apakah Pancatera punya afiliasi politik atau tidak. Yang sedang dipertanyakan adalah konsistensi.
Dan konsistensi tidak bisa dibuktikan hanya melalui caption.
Justru setelah sebuah statement dikeluarkan, pekerjaan reputasi sebenarnya baru dimulai.
Untuk Pancatera, misalnya, respons berikutnya tidak harus berupa klarifikasi kedua atau ketiga. Sebagai platform berbasis percakapan, mereka justru punya ruang untuk menjadikan kritik tersebut sebagai bahan refleksi yang relevan dengan audiensnya.
Percakapan tentang privilege, kelas sosial, representasi, atau relasi antara perempuan dan kekuasaan bisa menjadi salah satu bentuknya.
Bukan dalam format “kami akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”, tetapi sebagai perluasan perspektif.
Dengan cara itu, kritik tidak hanya dijawab. Ia diolah menjadi tindakan yang terasa sesuai dengan karakter platform itu sendiri.
Brand Values Bukan Hanya Materi Komunikasi
Kasus Pancatera memberi pelajaran yang cukup sederhana bagi brand.
Nilai adalah aset reputasi, tetapi sekaligus menciptakan ekspektasi.
Brand tentu ingin dikenal punya purpose, prinsip, dan positioning yang kuat. Itu yang membuatnya berbeda dan lebih mudah membangun kedekatan dengan audiens.
Namun ketika nilai tersebut sudah dipercaya publik, brand tidak lagi punya kendali penuh atas cara nilai itu digunakan.
Audiens akan memakainya sebagai tolok ukur.
Mereka akan melihat siapa yang diajak bekerja sama, siapa yang hadir dalam sebuah acara, siapa yang menjadi spokesperson, bagaimana perusahaan bereaksi terhadap isu, bahkan foto apa yang diunggah oleh orang-orang yang dianggap mewakili brand.
Karena itu, pekerjaan PR seharusnya tidak berhenti pada menyusun pesan yang terdengar konsisten.
Yang lebih penting adalah memastikan ada konsistensi antara pesan, tindakan, dan asosiasi yang dibangun.
Pada akhirnya, polemik Pancatera bukan hanya tentang sebuah foto di Istana.
Kasus ini menunjukkan bagaimana reputasi bekerja hari ini: publik tidak lagi sekadar menerima narasi yang diberikan sebuah brand. Mereka ikut membandingkan, menghubungkan, dan menilai.
Dan ketika ada jarak antara nilai yang dipercaya dengan tindakan yang terlihat, percakapan bisa berubah jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan brand.
Karena di era media sosial, publik bukan hanya audiens.
Mereka juga menjadi penguji konsistensi.


